Pemanfaatan & Pengolahan Eceng Gondok Sebagai Pupuk Organik dan Aplikasinya Terhadap Tanaman Hortikultura

1.1. Latar Belakang

Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luas wilayah 27.263,10 km2 terletak antara 115o26’ Bujur Timur dan 117o36’ Bujur barat serta 1o28’ Lintang Utara dan 1o08’ Lintang Selatan. Dengan adanya perkembangan dan pemekaran wilayah, Kabupaten Kutai Kartanegara dibagi menjadi 18 kecamatan. Kabupaten Kutai Kartanegara mempunyai belasan sungai yang tersebar pada hampir semua kecamatan dan merupakan sarana angkutan utama di samping angkutan darat, dengan sungai yang terpanjang sungai Mahakam (920 km). Kutai Kartanegara merupakan wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Bulungan, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang di sebelah utara, Selat Makassar sebelah timur, Kabupaten Penajam Pasir Utara dan Kota Balikpapan di sebelah selatan, dan dengan Kabupaten Kutai Barat di sebelah Barat. Daratan Kabupaten Kutai Kartanegara tidak terlepas dari gugusan gunung dan pegunungan yang terdapat hamper di seluruh kecamatan, yaitu ada sekitar 10 gunung. Gunung yang paling tinggi di Kutai Kartanegara yaitu Gunung Lengkup dengan ketinggian 485 meter yang terletak di Kecamatan Loa Kulu. Sedang untuk danau yang berjumlah sekitar 16 buah, danau yang paling luas adalah Danau Semayang dengan luas 13.000 hektar.

Beberapa laporan penelitian menyebutkan permukaan danau semayang sekitar 65 – 75 persen tertutup vegetasi air seperti enceng gondok, kiambang, kumpai, dan jenis gulma air lainnya. Tumbuhan-tumbuhan air ini merupakan salah satu penyebab cepatnya terjadi pendangkalan karena mempercepat laju penguapan. Selain itu, pendangkalan yang sangat cepat juga disebabkan oleh erosi. Dilaporkan juga bahwa Danau Melintang (11.000 hektar) dan Danau Semayang (13.000 hektar) di pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim) kini mengalami kerusakan yang sangat parah akibat sedimentasi. Saat ini sekitar 70 persen lahan Danau Melintang dan Danau Semayang mengalami pendangkalan serius. Kedalaman air yang tersisa hanya sekitar setengah hingga dua meter.  Menurut hasil studi ilmiah, ketebalan lumpur di Danau Melintang dan Danau Semayang saat ini mencapai lima meter. Itu merupakan dampak sedimentasi menahun dalam dua dekade yang mencapai puncaknya pada sepuluh tahun terakhir. Selain kedua danau tersebut diatas, Danau Jempang mengalami hal yang sama. Tebalnya lumpur membuat danau-danau di sekitar Sungai Mahakam kehilangan fungsi untuk menampung air di kala musim hujan. Air yang tidak tertampung inilah yang menyebabkan banjir di daratan sekitar Sungai Mahakam sampai ke Kota Samarinda. Danau Semayang, Melintang, dan Jempang merupakan tiga danau yang berlokasi di Sungai Mahakam. Pada musim hujan, danau tersebut berubah seperti laut, tetapi pada musim kemarau, kering dan biasa ditanami padi.

Eceng gondok (Eichornia crassipes (Mart) (Solms) merupakan tumbuhan air terbesar yang hidup mengapung bebas (floating plants) yang ditemukan pertama kali pada air tergenang di Daerah Aliran Sungai Amazon di Brasil pada tahun 1824 oleh Karl von Martius (Pieterse dalam Dinges, 1982).  Tumbuhan air, terutama eceng gondok dianggap sebagai pengganggu atau gulma air karena menimbulkan kerugian. Pada suatu bendungan (waduk) gulma air akan menimbulkan dampak negatif berupa gangguan terhadap pemanfaatan perairan secara optimal yaitu mempercepat pendangkalan, menyumbat saluran irigasi, memperbesar kehilangan air melalui proses evapotranspirasi, mempersulit transportasi perairan, menurunkan hasil perikanan. Disisi lain, potensi eceng gondok sebagai sumber bahan organik alternatif dapat dilihat dari beberapa studi terdahulu terutama untuk mengetahui produksi biomassanya. Dilaporkan bahwa produksi biomassa eceng gondok di Rawa Pening dapat mencapai 20 – 30,5 kg/m2 atau 200 – 300 ton/ Ha (Slamet, dkk, 1975). National Academy of Science (1977) juga melaporkan bahwa biomassa eceng gondok di Bangladesh dapat  mencapai lebih dari 300 ton per hektar per tahun. Dari data tersebut, eceng gondok merupakan bahan organik yang potensial untuk dikembangkan antara lain untuk pupuk organik dan media tumbuh. Pengolahan eceng gondok melalui teknologi pengomposan  menghasilkan produk berupa bahan organik yang lebih halus dan telah terdekomposisi sempurna. Proses pengomposan itu sendiri merupakan proses hayati yang melibatkan aktivitas mikroorganisme antara lain bakteri, fungi dan protozoa (Golueke, 1992). Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan eceng gondok sebagai sumber bahan organik mampu memperbaiki struktur fisik tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, pertumbuhan vegetatif dan produksi jagung manis (Soewarno, 1985 ; Suprihati 1991).

Eichhornia crassipes (Malt) (Solms) (eceng gondok)

Eichhornia crassipes (Malt) (Solms) (eceng gondok)

Program peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura untuk memenuhi kebutuhan dan memenuhi swasembada pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara terus dilakukan dengan berbagai cara dan usaha, baik secara traditional maupun modern. Peningkatan produksi pangan yang harus dicapai diharapkan selain dari segi kualitas juga dari segi kuantitas. Dalam kaitannya dengan hal ini, peran pemupukan sangat penting. Untuk meningkatkan kualitas produk, penggunaan pupuk organik sebagai substitusi pupuk kimia sangat diperlukan, karena produk yang dihasilkan bersifat organik dan bersifat ramah lingkungan. Dengan adanya upaya pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam menambah fungsi lahan untuk pengembangan tanaman pangan dan perkebunan, maka diharapkan beberapa permasalahan akan kelangkaan atau kekurangan pupuk dapat teratasi dengan pemanfaatan eceng gondok dan bahan organik lokal lainnya melalui penerapan teknologi pengomposan.

1.2. Tujuan dan Sasaran

Tujuan dan Sasaran kegiatan ini adalah :

  1. Mengkaji potensi dan permasalahan eceng gondok di Kabupaten Kutai Kartanegara pada umumnya dan di 3 (tiga) kecamatan pada khususnya yaitu Kec. Muara Wis, Kec. Kota Bangun dan Kec. Kenohan.
  2. Mendapatkan pola pengelolaan eceng gondok untuk bahan baku pupuk organik dan teknologi pengomposannya.
  3. Mendapatkan teknologi aplikasi penggunaan pupuk organik dari eceng gondok untuk pengembangan tanaman hortikultura dan tanaman pangan guna mendapatkan produk organik yang ramah lingkungan. Penggunaan pupuk organik juga dimaksudkan sebagai substitusi penggunaan pupuk kimia yang diharapkan dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan.

1.3. Luaran

Luaran dari kegiatan ini adalah :

  1. Informasi potensi dan permasalahan eceng gondok di Kec. Muara Wis, Kec. Kota Bangun dan Kec. Kenohan – Kabupaten Kutai kartanegara.
  2. Mendapatkan estimasi potensi pupuk organik dari eceng gondok yang dapat dihasilkan di ke–3 Kecamatan, Kabupaten Kartanegara tersebut diatas.
  3. Rekomendasi aplikasi pemanfaatan pupuk organik dari eceng gondok untuk tanaman hortikultura dan tanaman pangan.
  4. Rekomendasi dibangunnya Pusat Percontohan Pembuatan Pupuk Organik dari Eceng Gondok dan Aplikasinya untuk Tanaman Hortikultura dan tanaman pangan.

1.4. Kerangka Pemikiran

  1. Adanya potensi eceng gondok di Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya di 3 (tiga) kecamatan yaitu Kec. Muara Wis, kota Bangun dan Kenohan  yang dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pupuk organik.
  2. Adanya upaya pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam menambah fungsi lahan untuk pengembangan tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, diharapkan permasalahan tentang kelangkaan atau kekurangan pupuk dapat teratasi oleh pupuk oganik terutama dari eceng gondok. Dengan dikuasainya teknologi pembuatan pupuk organik dari eceng gondok, diharapkan masyarakat tani setempat dapat mengaplikasikan sehingga dapat  mengelola dan meningkatkan sendiri budidaya tanaman pangan dan hortikultura. Dengan demikian dapat mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat tani terutama yang berada di wilayah pedesaan.
  3. Dengan penerapan kebijakan penggunaan pupuk organik, selain produk organik yang diperoleh sekaligus dapat mengurangi pencemaran lingkungan terhadap penggunaan pupuk kimia yang berlebihan..

3 comments to “Pemanfaatan & Pengolahan Eceng Gondok Sebagai Pupuk Organik dan Aplikasinya Terhadap Tanaman Hortikultura”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Penjelasan yg sangat berguna sekali Pak. Disamping ramah lingkungan, pemanfaatan eceng gondok sebagai pupuk organik tidak membutuhkan biaya besar. Terima kasih sebelumnya, tulisan Bapak menginspirasi saya dalam pengelolaan eceng gondok yg tumbuh di sekitar rawa dekat rumah saya. Salam.

  2. minta info. apakah limbah cabe merah dapat di gunakan sebagai bahan biogas. soalnya di lingkungan saya melimpah dan menimbulkan bau tak sedap. karena pembusukannya. mohon dengan sangat bantuanya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.