KAJIAN DAMPAK USAHA SARANG BURUNG WALET BUATAN TERHADAP KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

Sep 03, 2012 oleh Fathimatuzzuhroh, ST

Maraknya  perkembangan bisnis usaha sarang burung walet buatan  di Kukar khususnya dan di Kaltim pada umumnya dapat dimaklumi, karena potensi bisnis ini cukup menjanjikan keuntungan. Meskipun harus mengeluarkan modal yang cukup besar berupa bangunan  sarana gedung  berikut  segala  assesorisnya yang bisa menghabiskan dana ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah, tetapi usaha ini tetap menarik minat masyarakat untuk digeluti. Tidak tanggung-tanggung  ternyata pasar sarang burung wallet, bukan hanya bersifat local, regional  bahkan hingga  pasar internasional. Bayangkan harga sarang burung walet kelas A (sarang mangkuk super) pada tahun lalu  bisa mencapai  banderol 12 juta/kg, cukup fantastis  bukan?.  Tetapi harga sarang burung wallet ini bersifat fluktuatif  terkadang bisa naik-turun sejalan dengan kondisi dan situasi yang berpengaruh terhadap harga tersebut.  Konsumen sarang burung walet yang paling dominan  berasal dari  China dan  Taiwan dan komoditi  ini telah menjadi menu favorit yang merambah ke industry perhotelan dan daya tarik wisata kuliner.

Untuk menata dan menertibkan  terkait pengelolaan  usaha sarang burung walet buatan di beberapa kecamatan yang  telah tersebar di Kutai Kartanegara, maka Pemerintah Daerah cukup responsive dengan menerbitkan Peraturan Daerah. Essensi terbitnya Peraturan Daerah ini cukup urgen  mengingat objek sarang burung walet buatan bisa menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terus berkembang dimasa mendatang. Tidak berlebihan jika daerah tetangga lainnya  seperti  Kota Bontang telah terlebih dahulu membuat  Perda tentang pengelolaan  sarang burung walet buatan, karena diketahui daerah ini memiliki lokasi sarang burung walet yang cukup banyak tersebar dengan jarak yang  berdekatan dan dengan lingkungan perkotaan yang relative padat penduduk.

Dalam rangka merespon dan menelaah  perkembangan bangunan usaha sarang burung walet buatan yang makin bertambah  dilingkungan masyarakat terutama daerah pesisir, maka Balitbangda Kutai Kartanegara sebagai lembaga riset daerah mengangkat salah satu topic  kajian pada tahun 2012. Topik tersebut ialah  dampak usaha sarang burung walet buatan terhadap  kesehatan masyarakat  dan  lingkungan. Adapun substansi yang ingin digali dan diteliti melalui penelitian ini  adalah antara lain;

  1. Menyangkut izin; ijin dimaksud apakah  persyaratan dan kelengkapan ijin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah telah sesuai ketentuan, mengingat usaha sarang burung buatan  ini dapat mengganggu ketentraman atau ketertiban  masyarakat umum sehingga perlu mendapat rekomendasi dari pihak-pihak terkait.
  2. Bagaimana persepsi masyarakat terkait dampak ekonomi; apakah usaha ini dapat memacu mengembangkan usaha ekonomi masyarakat melalui tumbuhnya warung, jensi usaha baru, tenaga kerja  misalnya atau dapat mendukung CSR Perusahaan terhadap perbaikan sarana dan prasarana lingkungan.
  3. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap dampak kesehatan yang ditimbulkan; apakah sarang burung  walet dapat mengakibatkan penyakit tertentu seperti; flue burung, types, malaria dll.
  4. Persepsi masyarakat terhadap dampak social; apakah terjadi protes/demo warga  karena terganggu dengan usaha ini ?
  5. Sejauh mana persepsi masyarakat terhadap dampak lingkungan;
  6. Persepsi masyarakat aterhadap pengelolaan dampak; apakah sudah ada teknis pengelolaan kotoran burung walet dengan cara;  dibuang, atau dijadikan pupuk. Selain itu apakah para pengelola usaha sarang burung walet memiliki dokumen UKL – atau UPL.

Untuk memperoleh data riset yang lebih akurat, maka mereka yang diangkat sebagai responden adalah; a).aparatur kecamatan/desa  sebanyak 5 orang per kecamatan, para pengusaha sarang burung walet  3-5 orang dan  tokoh masyarakat setempat.

Pelaksana Riset adalah: Bidang SDA dan Teknologi  Balitbangda Kutai Kartanegara bekerjasama dengan Lemlit Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong.

Artikel

About the author

Staf Fungsional Peneliti Balitbangda Kutai Kartanegara
Comments are closed.